Cerita Seks Ngentot Memek Ibu Majikan Hot

Cerita Seks Ngentot Memek Ibu Majikan Hot ⚫ Cerpenseks.net Situs Cerita Sex Mesum Ngentot Memek Calon Istri Tunangan Sampai Hamil, Cerita Seks Memek, Seks Ngentot Memek, Cerita Sex Terbaru, Masterkiu ,Master Kiu Kiu, Master QQ 99, Master 99 Domino, Master QQ Poker, Master Qiu Qiu, Qiu Qiu 99, Pkv Games

Cerita Seks Ngentot Memek Ibu Majikan Hot

Cerita Seks Ngentot Memek Ibu Majikan Hot ⚫ Cerpenseks.net Situs Cerita Sex Mesum Ngentot Memek Calon Istri Tunangan Sampai Hamil, Cerita Seks Memek, Seks Ngentot Memek, Cerita Sex Terbaru, Masterkiu ,Master Kiu Kiu, Master QQ 99, Master 99 Domino, Master QQ Poker, Master Qiu Qiu, Qiu Qiu 99, Pkv Games

Cerita Seks Ngentot Memek Ibu Majikan Hot

Aku benar-benar lemas mendengar keputusan pihak manajemen perusahaan hari ini. Bulan kemudian perusahaan sudah mengucapkan rencananya untuk meminimalisir sejumlah karyawan, tergolong pengemudi. Hari ini aku tahu aku tergolong yang kena PHK.

Istriku tak tidak sedikit bicara saat kutunjukkan surat pemutusan hubungan kerja itu. Ia melulu memandangi bayi kami yang baru berusia 3 bulan. Terbayang di pikiran kami bagaimana teknik menghidupi bayi ini tanpa pekerjaan. Pesangon yang tak seberapa jumlahnya tentu tak bakal bertahan lama.

Selama seminggu sarat aku menyibukkan diri dengan iklan lowongan kegiatan di koran dan mendatangi sekian banyak macam perusahaan untuk menggali kerja. Hasilnya nihil. Untungnya sorenya istriku membawa kabar gembira.

Pak Masterqiu, pria tua yang bermukim tak jauh dari lokasi tinggal kami kena stroke. Ia mesti tidur total dan berhenti menyupir guna majikan nya. Kata istriku, majikan pak Masterqiu perlu supir baru segera. Istriku mencicilkan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat majikan Pak Masterqiu.

Esok paginya aku langsung meluncur ke lokasi tinggal Pak Tan, mantan majikan Pak Masterqiu. Rumah Pak Tan spektakuler besar dan mewah. Pembantu Pak Tan membukakan pintu gerbang dan mempersilakan aku menantikan di beranda. Sejenak lantas Pak Tan menemuiku. Ia seorang pria Cina tua, bos suatu perusahaan perlengkapan masak di Surabaya.

“Kamu tetangga Pak Masterqiu?” Tanya Pak Tan.
“Benar, Pak. Nama saya Andi”
“Kamu kelihatan muda sekali. Berapa umurmu?” Tanya Pak Tan.
“24tahun, Pak”
“Sudah lama jadi supir?”
“3 tahun, Pak”

“Oke, Andi. Langsung saja. Kamu bakal menjadi supir individu istri saya. Istri saya ialah Area Manager perusahaan. Ia mesti tidak sedikit berkeliling ke cabang-cabang perusahaan di kota-kota beda di Jawa Timur dan di Indonesia,” jelas Pak Tan. “Gaji tiga bulan kesatu Rp 1,2 juta. Setuju?”

“Setuju, Pak”
“Kamu mulai kerja hari ini!” kata Pak Tan.

Master QQ 99

Seminggu telah aku menjadi supir Nyonya Tan. Dari karyawan kantor, aku tahu nama Nyonya Tan ialah Sakong, suatu nama yang elok. Di kantor, semua karyawan demikian segan dan hormat padanya, dan tak pernah terdapat yang bicara buruk mengenai perempuan spektakuler ini.

Di mobil, saat tak sedang menelepon, Bu Sakong tak tidak sedikit bicara. Seperti pagi ini dalam perjalanan ke Malang, mengarah ke ke kantor cabang. Ia melulu bicara sejumlah patah kata apabila aku terlampau cepat atau terlampau pelan mengemudi.

Kami hingga di Malang sebelum tengah hari. Bu Sakong majikan ku langsung memimpin rapat semua karyawan. Aku sendiri langsung mengarah ke warung santap di depan kantor. Setelah 3 jam menunggu, perutku mulas. Pasti tersebut karena sambal pecel lele yang kumakan di warung tadi. Aku menggali WC. Kata karyawan kantor, WC supir terdapat di unsur belakang. Aku segera menyelinap ke belakang menggali WC yang dimaksud, melalui lorong-lorong sempit tumpukan stok barang perusahaan.

Setelah berlalu dengan urusanku di kamar kecil, aku bermaksud pulang ke depan melalui lorong-lorong sempit itu. Dinding di antara lorong tersebut ternyata ialah kaca di antara ruang kantor. Tirai dinding kaca tersebut terbuka sedikit, dan tak sengaja dari celah kecil tersebut aku menyaksikan sebuah adegan seru, yang sudah tentu bukan pekerjaan kantoran pada umumnya.

Seorang pria muda sedang asyik memeluk, menghirup dan dengan lidahnya mencari dada wanita yang aku kenal betul, yaitu Bu Sakong. di atas suatu sofa di ruang kantor kepala pemasaran cabang Malang.

Bagian atas blus Bu Sakong majikan ku tersingkap lebar, menampakkan dadanya yang sarat di balik BH yang terurai sebelah. Bu Sakong terlihat begitu merasakan itu. Kepalanya terdongak dengan mata terpejam bibirnya terbuka. Kalau tak terdapat dinding kaca ini, aku pasti dapat mendengar desah-desah nikmatnya. Aku terpaku merasakan adegan kecil di celah sempit itu.

Master 99 Domino

Tak sengaja lututku menyentuh tumpukan stok barang pecah belah. Setumpuk piring jatuh berhamburan, memunculkan suara yang tentu terdengar dari dalam ruangan. Kulihat aksi Bu Sakong dan lelaki tersebut terhenti seketika. Aku lari menjauh, tak butuh repot-repot mengatur ulang piring-piring yang berserakan.

Satu jam lantas Bu Sakong terbit dari kantor dan mohon balik ke Surabaya. Aku tak berani tidak sedikit bicara dalam mobil. Bu Sakong pun tidak, namun ia kelihatan santai sekali. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia tahu aku mengintipnya tadi. Dua puluh menit kemudian, masih dalam perjalaan balik ke Surabaya, ia menerbitkan sesuatu dari tasnya.

“Andi, berapa umurmu?” Tanya Bu Sakong tiba-tiba.
“24 tahun, bu”
“Sudah menikah?”
“Sudah, Bu. Saya punya bayi umur 3 bulan”

Tiba-tiba Bu Sakong membuang satu amplop tebal ke kursi di sebelahku. Sejumlah lembaran seratus ribuan terlihat dari ujung amplop yang terbuka.

“Itu untuk anda dan anakmu. 5 juta rupiah!” kata Bu Sakong.
“Untuk saya?” tanyaku heran.
“Ya, guna kamu,” tegas Bu Sakong.
“Wah, guna apa ini, ya, bu?” tanyaku tak mengerti. Aku melihatnya dari kaca spion. Bisa kulihat Bu Sakong majikan ku tersenyum dari kaca itu.

“Ini duit tutup mulut. Aku tahu anda mengintip aku sedang bermesraan dengan Alex tadi. Tidak boleh terdapat yang tahu ini. Kalau Pak Tan tahu, tersebut berarti dari kamu. Dan kau tentu akan kehilangan pekerjaan. Kunci mulutmu dengan duit 5 juta itu, dan kau tetap dapat bekerja. Faham?” ujar Bu Sakong tegas.

Aku terdiam sejenak. Kuberanikan mulai bicara, “Ibu tidak butuh kasih saya duit itu. Saya bakal tutup mulut. Ibu dapat pegang ucapan-ucapan saya” “Tidak! Ambil saja! Dan tidak boleh bicara lagi!” itulah kalimat terakhir bu Sakong. Selebihnya, ia tidak bicara lagi. Besoknya aku menyetorkan duit ke tabunganku tanpabilang-bilang istriku. Dan selanjutnya, aku memblokir mulut rapat-rapat. Hari-hari berjalan laksana biasa, tak tidak sedikit yang berubah.

Master QQ Poker

Yang tidak banyak berubah ialah suasana di dalam mobil. Belakangan ini Bu Sakong sering kali bergeser lokasi duduk. Kalau seringkali ia duduk tepat di belakangku, kali ini ia lebih tidak jarang bergeser ke kiri. Ia acap kali menculik pandang ke arahku dari duduknya di mobil. Entah mengapa ia begitu. Yang jelas aku tak pernah berani menatapnya dari balik spion.

Pagi ini aku mengantar Bu Sakong ke bandara Juanda. Ia bakal bertugas mengecek cabang Bali sekitar seminggu. Jadi, sekitar seminggu ini aku bakal stand-by di kantor Pak Tan sebagai sopir cadangan. Tapi selepas siang suatu sms masuk ke HP-ku. Itu dari Bu Sakong. Bunyinya, : Sopir cabang Bali sakit. Kamu ke Bali siang ini. Sudah saya kirim uang bikin beli tiket pesawat. Kamu langsung ke kantor Cabang Denpasar”.

Segera aku mendapatkan duit tiket dan alamat kantor Cabang Denpasar dari kantor Surabaya. Senang pun rasanya naik pesawat guna kesatu kalinya. 4 jam lantas aku telah berada di Kantor Cabang Denpasar. “Saya lebih nyaman bila kamu yang nyupir,” kata Bu Sakong begitu duduk di kursi belakang di mobil Cabang Denpasar. “Kamu tidak sedikit tahu jalan-jalan di Denpasar, kan?” tanya Bu Sakong.

“Ya, Bu. Saya menempuh SMA saya di sini,” kataku.
“Baiklah, langsung ke Hotel Santika Kuta Beach,” perintah Bu Sakong.

Setelah check-in di hotel, aku sempat membawakan barang ke kamar Bu Sakong, suatu kamar cottage tepat di pinggir pantai Kuta. “Ini uang bikin cari hotel kecil di dekat sini. Mobil anda bawa. HP-kamu harus stand-by. Kalau saya butuh keluar, saya bakal telepon,” kata bu Sakong.

“Baik, bu!”

Aku menemukan hotel kecil tak jauh dari Santika Kuta Beach. Jam tujuh malam tidak cukup sedikit, sehabis mandi, dan mengenakan t-shirt, teleponku bergetar. Bu Sakong kirim SMS. “Charger saya ketinggalan di mobil. Bisa kau antar ke hotel?” demikian bunyi SMS itu.

Master Qiu Qiu

Aku segera beranjak. Ketika hingga di hotel, SMS Bu Sakong datang lagi, “Kamu telah sampai hotel? Bisa langsung antar charger ke kamar saya?”

Dengan charger di tangan, aku bergerak ke unsur belakang hotel dan menggali cottage bu Sakong. Di malam hari keadaan cottage tersebut syahdu benar, dengan tumbuhan rindang, lampu redup di seputaran cottage dan deburan ombak laut tak jauh dari cottage. Aku mengetuk pintu cottage.

“Masuk saja, tidak dikunci!” tersiar suara Bu Sakong. Aku tak berani langsung masuk. Ragu aku berdiri di depan pintu.
“Masuk, Andi!” suara Bu Sakong agak meninggi, separuh memerintah.

Aku mendorong pintu. Bu Sakong berdiri di sekitar jendela yang menghadap ke pantai dengan segelas soft-drink dengan rambut terurai dan senyum manis. Berdebar aku melihatnya. Tank-top merah ketat yang dikenakan tidak mempedulikan lekuk-lekuk dadanya tampak jelas. Belahan dada yang estetis itupun tidak tersembunyikan. Aku menatap kakinya yang jenjang. Shorts putih yang teramat pendek tersebut menyajikan sepasang paha mulus yang kencang.

“Ini chargernya, Bu Sakong. Saya taruh sini, ya!” kataku gugup. Bu Sakong berlangsung menghampiriku. Ya ampun! Cara berlangsung itu, demikian menggetarkan dada. Seksi nian orang satu ini. “Kamu ke lihatan lumayan gugup,” ujar Bu Sakong tenang, menatapku dengan pandangan penuh. Tak pernah ia memandangku sedemikian rupa sebelumnya.

“Lihat sekeliling. Sebuah kamar yang lumayan nyaman dengan lampu cukup redup, dan desir suara debur ombak. Sempurna sekali, bukan?” kata Bu Sakong dalam kerlingnya. Aroma farfum mahal tersebut menyergap hidungku. Aku tak tahu Bu Sakong bicara apa, namun aku menjawabnya.

“Ya, benar. Sempurna,” kataku. Aku mundur sejumlah langkah. Bu Sakong kian dekat ke arahku.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?” tanya Bu Sakong. Wajahnya tak jauh dari wajahku,
“Saya….eh…saya, mesti segera balik. Saya tidak hendak mengganggu kesempurnaan keadaan ini,” kataku.

Qiu Qiu 99

“Begitu?” kata Bu Sakong pelan, menempatkan gelas di meja di sebelahnya. “Kalau begitu, balikkan badan dan tutup pintu itu,” katanya kemudian. Aku menuruti perintahnya. Aku mengembalikan badan, dan memblokir pintu.

“Tidak, begitu, Andi. Tutup dari dalam, bukan dari luar!” ujar Bu Sakong.
Aku terkejut. “Dari dalam? Maksud Ibu?””

“Ya, dari dalam. Dan kau tetap di sini. Kita hanya berdua di kamar yang romantis ini. Tidak bisakah kau lihat ranjang itu? Tidak kah kau tahu mengapa aku memanggilmu ke sini? Tidak bisakah kau lihat alangkah aku menginginkanmu?”

Aku diam terpaku. Tapi terdapat benda yang mulai terasa mekar di selangkanganku. Bu Sakong mendekatiku dan mengalungkan kedua tangannya ke leherku. “Pangil aku Sakong saja. Bawa aku ke ranjang itu. Aku hendak kamu cumbui aku. Bercintalah denganku. Aku pingin sekali!” Belum sempat aku menyampaikan sepatah kata.

Bibir Sakong telah tiba di bibirku. Dilumatnya aku dengan rakus dan beringas. Entah mengapa aku tak lagi ragu. Kubalas lumatan bibir tersebut dengan tak kalah beringas. Sungguh manis dan segar bibir itu. Sakong segera melepas kaosku dan melepas tank-topnya sendiri, tidak mempedulikan dada indahnya telanjang.

Aku segera menyergap dada estetis itu. Kukulum dan kuhisap mati-matian puting susu Sakong. Aku yakin tersebut yang ia suka dan ia inginkan sekarang. Dan aku benar. Ia merintih dan mendesah dan membiarku aku mengeksplorasi dada dan lehernya dengan bibir dan lidahku.

Kukulum lembut puting merah jambu tersebut dan kurema-remas dengan ritme yang embut pula. Tubuh Sakong bergetar hebat. Dengan ciuman bertubi-tubi dan desakan dadanya pula, ia menggerakkan aku ke arah ranjang dan menindihku dengan gencar, masih dengan ciumannya yang kian beringas.

“Susuku. Aku inginkan kau hisap putingku lagi. Telusuri sekujur dadaku. Buat aku nikmat. Buat aku melayang, Andi!”
“Kau bakal dapatkan yang kau mau, Sakong” kataku tersengal.

Pkv Games

Kuberi Sakong jilatan-jilatan rakus di puting dan seputaran susunya. Ia membalasanya dengan gerakan yang paling terlatih dan terampil. Dibalasnya aku dengan menghisap dan menggigit kecil putingku. Dan debur ombak pantai Kuta laksana mendadak menuntun Sakong guna memintaku mencungkil celana pendek yang dikenakan itu, dan ia tak sabar menolong aku mencungkil celana jeansku.

“Lepas celanaku, Andi. Lepas dan jangan tunggu lama beri aku kejantananmu,” Sakong mulai mendesah saat mulai kuraih celana tersebut untuk kulorotkan. Tempik estetis dan manis wanita Cina tersebut menyembul dengan kerumunan rambut halus yang menyemut di sekitarnya.

“Kamu inginkan aku menggerayangi ini dengan lidahku?” tanyaku.
“Itu yang aku mau. Do it!” kata Sakong.

Ia menolong dirinya sendiri terlentang dan meraih kepalaku. Kubenamkan wajahku di tempik Sakong dan kumainkan lidahku, merangsek sedalam barangkali ke seantero vagina yang basah dan lapar itu. Yeni merintih, mengerang, mendesah dan mengaduh nikmat. “Ohhhh! ooouhhhh! Ouuuhhhh, Andiiiii! That’s good. Terussss. Terusss. Ouuuh!” Sakong terus mengerang salah satu debur ombak pantai.

Sejenak kemudian, ia mengusung kepala dan meraih penisku. “Sekarang kau mesti menikmati balasanku,” seloroh Sakong. Ia menelan bulat-bulan penisku dan mengulumnya sarat nikmat. Iapun unik penisku maju mundur mulai dari kecepatan rendah, sedang dan kecepatan tinggi dengan jepitan mulutnya. Aku megap-megap dibuatnya. Sungguh berpengalaman perempuan ini memberikan kesenangan pada penisku. Benar-benar mabuk aku dibuatnya.

Tak sabar lagi aku. Libidoku telah naik ke ubun-ubun. Aku menindihnya, menyerang susunya sekali lagi dan menciptakan Sakong menggelinjang binal di lokasi tidur itu. Sakong lebih tak sabar lagi. Ia membetot penisku dan membantuku menggali tempik basahnya.

“Senangkan aku, bahagiakan aku, Andi. Aku mau anda sejak kesatu aku menyaksikan kamu!
“Kamu terlalu tidak sedikit meminta, Sakong,” kataku.

Master Kiu Kiu

Kubenamkan penisku ke dalam vaginanya yang basah menantang. Kupompa dengan sarat kelembutan dengan gerakan yang kusesuaikan dengan debar nafas Sakong. Kubiarkan penisku menggali titik-titik nikmat di vagina Cina seksi ini. Kuberi lumayan seddikit bonus gigitan gigitan manja di puting dan sekujur susunya. Ini menciptakan Sakong senang bukan main. Tak dapat kujelaskan rintihan, desahan dan erangan Sakong.

Aku dan Sakong bercinta semalam suntuk. Sakong melulu memberiku tidur sejenak sebelum ia mulai menyerang aku lagi. Ia punya tidak sedikit teknik permainan yang membuatku terperangah. Dan ia tidak jarang kali meminta, meminta dan meminta. Ini menciptakan aku mesti mengimbanginya terus, berapa kalipun ia memintanya.

Kami sedang di Bali seminggu penuh. Sakong pintar bikin dalil untuk tidak butuh datang ke kantor cabang. Ia melulu mau aku mencumbunya terus dan terus tiada habis. Pada malam terakhir sebelum balik ke Surabaya, aku dan Sakong bercinta di dalam sleeping-bag selepas tengah malam di pantai yang sunyi.

Begitu balik ke Surabaya, Sakong terus mohon aku memuaskannya : di kamar rumahnya saat Pak Tan dan seisi lokasi tinggal sedang keluar, dan di mana saja. Kami pergi ke hotel di Malang, Jogja, Madiun, Jakarta bahkan Singapura. Sering pula Sakong mohon aku mencumbunya di dalam mobil dan dimana saja ia menjadi horny.